Bahassa Indonesia

 

STICHTING WELZIJN PROJECTEN INDONESIE (SWPI)

(Yayasan Proyek Kesejahteraan di Indonesia)

SIAPAKAH KAMI

Stichting Welzijn Projecten Indonesie (SWPI) mempunyai tujuan untuk memberikan bantuan kemanusiaan langsung kepada pihak-pihak yang membutuhkan di Indonesia, seperti meningkatkan perkembangan dan revalidasi serta perawatan kepada anak-anak dan orang dewasa dan selanjutnya dengan semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung bertalian dengan itu, dalam arti yang seluas-luasnya. Kegiatan Yayasan ini tidak mencari laba (nirlaba), tidak mengutamakan agama atau aliran politik tertentu.
Bantuan yang akan diberikan berupa pelayanan pendidikan,  penampungan serta menuntun manusia,  yang hanya dapat dilayani atas permintaan dari pihak yang memerlukan di Indonesia. Dalam hal ini perlu diketahui terlebih dahulu “bagaimana kemampuan penerimaan keuangan” dari pihak yang memerlukan bantuan.

Pimpinannya adalah:
John A.G. Pattipeilohy, Ketua, Pelaksana Proyek
Mr. Arjen H.Chr.Heere, Sekretaris, Pengacara di Rotterdam
Mr. Paul M. de Haan, Bendahara, Ahli Pajak di Rotterdam
Dr.Lia van Zuylen MD Phd  di RSU Erasmus Rotterdam

APA YANG KAMI KERJAKAN

SWPI ingin mewujudnyatakan maksudnya antara lain dengan  :

  1. memberikan bantuan kepada badan/istitusi di Indonesia, yang berkerja di bidang perawatan, pendidikan dan penampungan serta tuntunan kemanusiaan.
  2. memberikan bantuan profesional jangka pendek dari Nederland dalam rangka kerjasama dengan  organisasi terkait di Nederland.
  3. pengumpulan dana, penerbitan buku dan malajah lainnya,  serra memelihran dan meng-update website dan bahan-bahan hukum lainnya,  yang berguna untuk maksud tersebut.

DUKUNGLAH KAMI

Untuk menjalankan projek-projek dimaksud, SWPI memerlukan dana namun tidak hanya ingin tergantung pada suatu pendonor tetap.  Bantuan tsb dapat juga berupa hadiah, sumbangan secara berkala atau warisan tertentu. Yang menjadi ukuran bukanlah jumlah yang besar yang akan diberikan, tetapi  pemberian akan disambut dengan baik. Mungkin anda mempunyai alasan tertentu untuk memberikannya, dalam hal demikian beritahukanlah kami, maka kami akan menaruh perhatian yang lebih khusus padanya.

Postbank 945866
Kamer van  Koophandel 2438165

SEJARAH

Pada tahun 1995, Sdr Johm Pattipeilohy, pernajh berjanji kepada ayahnya untuk membangun kembali Rumah Tua milik kakeknya, di kampung Ulath yang terletak di pulau Saparua, Maluku. Baru di tahun 1997 Sdr John Pattipeilohy, memutuskan untuk memenuhi janji tersebut. Untuk itu ia mengajukan  3 bulan cuti pada majikannya  dan berangkat menuju Maluku pada awal bulan Nopember 1997.
Sewaktu dalam bulan Desember 1997, sebelum hari Natal, teman wanitanya, sekarang isterinya, Angele van Dorst,  datang dari Nederland untuk  mengunjunginya selama 10 hari dan melihat apa yang telah dicapai serta mendengar juga bahwa  telah dipesan batu prasasti dengan tulisan “tanggal 10 Januari 1998”, maka ia menyadari  bahwa perlu ada kelanjutan dari langkah ini. Tanggal 10 Januari 1998 selesailah pembangunan rumah tersebut yang diresmikan dengan suatu acara tradisional menurut adat setempat dilanjutkan dengan izin dari keluarga untuk penggunaan tempat/rumah dimaksud sebagai tumpangan bermalam bagi tamu-tamu dari pihak gereja atau sekolah.
Dalam tahun 1998 John Pattipeilohy memutuskan untuk secara lebih intensif menangani keinginannya yang besar, mendirikan projek-projek kesejahteraan di Indonesia, yang berskala kecil namun juga jelas penangannya.
Setelah mengajukan berhenti dari majikannya, berangkatlah ia dalam bulan Januari 1999 untuk selama 6 bulan ke Indonesia tujuan  Maluku, melalui Ambon, ke Seram dan Saparua, pulau-pulau asal kedua orang tuanya, untuk kegiatan inventarisasi masalah. Parawisata ecologisch merupakan dasar untuk mengumpulkan dana bagi peningkatan pendidikan dan kesehatan. Namun ia tidak dapat pergi lebih jauh dari Jakarta karena adanya kerusuhan yang terjadi di Maluku pada waktu itu. Setelah 3 minggu ia berada kembali di Nederland, tanpa pekerjaan, banyak cita-cita dan kemauan untuk melakukan sesuatu untuk Indonesia.
Dalam bulan April 1999 ada kesempatan kembali untuk bekerja di Nederland sebagai direktur interim Maatschappelijke Opvang selama 5 bulan dan setelah masa itu  ia kembali berangkat ke Indonesia untuk 3 bulan, dengan tujuan “apabila proyek tersebut tidak dapat dilaksanakan di Maluku, maka sebaiknya dilakukan saja di pulau-pulau lain”. Sementara itu banyak kontak dilakukan di Indonesia dan jaringan kerjasama (net work) dibangun. Untuk menetap di Indonesia bukanlah merupaka suatu pilihan, karena ia berkesimpulan bahwa  proyek yang berskala kecil dan mudah dilaksanakan dapat dilakukan juga bersama dengan rekan-rekan yang dapat dipercaya di Indonesia.
Kembali di Nederland ia menerima jabatan sebagai direktur Maatschappelijke Opvang (Crisis Opvang, Vrouwen Opvang en Begeleid wonen). Setiap kali ia berkesempatan cuti, maka cuti tersebut digunakannya untuk datang ke Indonesia menghubungi serta meninjau proyek-proyek yang berjalan dalam jaringan kontak network yang dilakukannya disamping pekerjaannya.
Dalam bulan Pebruari 2004 ia memutuskan untuk secara definitive hanya menangani proyek-proyek di Indonesia dan berhenti dari pekerjaan tetapnya.  Dalam bulan Agustus 2005 SWPI ditingkatkan sebagai suatu Yayasan didukung oleh suatu akta notariil. Yayasan ini tidak mencari laba (nirlaba), tidak mengutamakan agama atau aliran politik tertentu.

PROYEK-PROYEK YANG DIDIRIKAN PADA TAHUN-TAHUN YANG LALU DARI NEDERLAND DI SAMPING PEKERJAANNYA ADALAH :

  1. Mengorganisir dan mengupayakan pengadaan tenaga ahli dibidang Logopedie dalam kerjasama dengan Jan Volkers, dua orang ahli Logopedi dari Nederland selama 6 bulan telah memberi pelajaran di Bhakti Luhur di Malang kepada duapuluh peserta pekerja social dari seluruh Indonesia.
  2. Memperoleh kerjasama dari penerbit Amerika buku Disabled Village Children karangan David Werner (Berkeley, the Hesperian Foundation, 1987-1999) untuk publikasi dalam bahasa Indonesia. Terjemahan dilakukan Bhakti Luhur di Malang (Anak-anak desa yang menyandang cacat, Yayasan Bhakti Luhur, 2002). Buku ini diberikan secara cuma-cuma kepada  pembantu-pembantu profesional dan oleh pemakainya diberi gelar “alkitab/bijbel” Untuk orang tua dari anak-anak cacat juga diberikan bab-bab yang penting secara cuma-cuma. Melalui lukisan dan gambar dengan judul, orang tua juga dilibatkan dengan anak cacatnya.
  3. Membantu mendirikan tempat untuk memperbaiki kursi roda dan ruangan untuk therapy para anak cacat ganda. Proyek ini dimulai untuk mengenang Jan Volkers yang sewaktu diutus ke Indonesia, meninggal karena serangan jantung. Karena anak-anak dan para pengasuh di Indonesia menyapa Jan Volkers dengan “papa Jan”, maka proyek-proyek itu disebut juga dengan nama Papajan 1 dan Papajan 2. Kedua proyek itu berjalan dengan sangat sukses.
  4. Menyediakan pakaian olahraga untuk antara lain kesebelasan bola kaki bagi para penyandang cacat.

KONTAK

Stichting Welzijn Projecten Indonesie
Wijnbrugstraat 233
3011 XW Rotterdam

Telefoon      + 31 10 412 7955
E-mail          since2005swpi@gmail.com
ING Bank: NL27 INGB 0000945866
Kamer van Koophandel 24 38 1865

 

PROYEK-PROYEK YANG DIDIRIKAN TAHUN TERAKHIR

Bersama dengan Jan Volkers mengorganisir dan memberi kesempatan kepada perkembangan keahlian dibidang logopedi. Dua orang Belanda ahli logopedi selama enam bulan telah memberi pelatihan/pelajaran di Bhakti Luhur Malang kepada duapuluh pekerja sosial dari seluruh Indonesia, untuk memperoleh penegetahuan dasar dibidang logopedi.
  1. Memperoleh kerjasama dari penerbit Amerika dari buku Disabled Village Children, ditulis oleh David Werner (Berkeley, the Hesperian Foundation, 1987 –1999) untuk publikasi dalam bahasa Indonesia. Terjemahan dibuat Bhakti Luhur di Malang (Anak-anak desa yang menyandang cacat, Yayasan Bhakti Luhur, 2002). Dengan hanya membayar ongkos kirimnya, Bhakti Luhur  memberikannya secara cuma-cuma untuk para pekerja/pembantu yang  menggunakannya dan memberinya julukan “bijbel (alkitab)”. Untuk orang tua dari anak-anak cacat juga disediakan bab khusus/penting secara cuma-cuma. Melalui lukisan dan gambar yang diberi judul, para orang tua dilibatkan pula dengan anak cacatnya.
  2. Membantu mendirikan tempatkerja/bengkel untuk memperbaiki kursi roda dan sebuah ruangan therapy untuk para anak cacat ganda.Proyek-proyek ini dimulai untuk mengenang Jan Volkers yang sewaktu diutus ke Indonesia meninggal karena serangan jantung. Karena anak-anak dan para pengasuh/pembantu di Indonesia memanggil Jan Volkers dengan “Papa Jan” maka proyek-proyek ini diberi nama Papajan 1 dan Papajan 2. Kedua proyek ini berjalan dengan sangat sukses.
  3. Menyediakan pakaian olah raga antara lain untuk sebuah tim sepakbola orang-orang cacat.

 KEI

Stichting Welzijn Projecten Indonesie (SWPI) telah menerima sebuah konsep rancangan proyek mengenai Maluku Tenggara dengan permintaan untuk memperoleh bantuan finansial bagi proyek dimaksud.
Ini menyangkut perkembangan dan pekerjaan rehabilitasi di Maluku Tenggara, Kei Kecil dan Kei Besar. Maksudnya adalah untuk mendirikan pusatnya di Kei Kecil dekat Tual. Dalam bulan Nopember 2005 dilakukan kunjungan ke lokasi dan SWPI mengajukan permohonan untuk lebih menkonkretkan konsep tersebut, misalnya dengan hak kepemilikan lahan dan perkiraan biaya.
Pusat ini tidak hanya diperuntukan bagi anak-anak Kei Kecil tetapi juga untuk melatih penduduk untuk membantu/merawat sendiri anak-anak cacatnya. Dari sana Kei Besar dan pulau-pulau lain disekitarnya dapat dibantu juga, karena belum tersedianya sarana untuk para penyandang cacat. Untuk penduduk lebih dari 200.000 jiwa di kepulauan Kei selama periode 2 bulan (Agustus – September 2005) telah diindentifikasi 80 anak dan beberapa orang tua cacat, dengan perkiraan dapat mencapai lebih dari 100.
Mendahului usul ini, telah disewa sebuah rumah oleh Bhakti Luhur, di mana beberapa perawat dari Maluku mulai melakukan perawatan secara professional. Semangat dan dorongan sangat besar di antara perawat tersebut, jadi bantuan finansial sangat diperlukan.

RINAMAKANA

Membantu dan menunjang pembangunan kembali Maluku.

Zuster Moens yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja di Maluku, setelah memperhatikan akibat dari kerusuhan yang terjadi dalam tahun 1999, telah mendirikan sebuah proyek dengan tujuan membangun 400 rumah sederhana untuk  menampung para pengungsi. Dalam hal ini ia antara lain dibantu oleh yayasan Help Molukken in Nood (HMIN).
Masuknya SWPI dalam proyek Zuster Moens  masih dalam taraf inventarisasi, yang memikirkan untuk untuk menyediakan tempat guna menampung anak-anak di mana dapat diberi bantuan aktivitas pendidikan. SWPI juga mempunyai kontak di pulau Ambon dengan beberapa organisasi setempat dan saat ini menginventarisir proyek yang sangat memerlukan perhatian. SWPI bukan hanya ditunjuk untuk menampung anak-anak cacat dilengkapi dengan tuntunan secara profesional, tetapi juga  di bidang proyek perawatan kesehatan (seksual) seperti SOA dan HIV/AIDS dan  masalah-masalah narkoba.
Untuk keperluan pulau Kei Besar,  perhatian ditujukan pada  pengadaan suatu proyek penyediaan air bersih. Masalah ini masih dalam tahap inventarisasi.

BUKU BARU

Untuk publikasi  terjemahan dalam bahasa Indonesia dari buku “Nothing About Us without Us” oleh David Werner (Palo Alto, CA 94302, USA, Health Wrights, 1998), sedang dicari sponsor. Terjemahan ini sekali lagi dilakukan  Bhakti Luhur di Malang, ia merupakan buku pedoman dan berisi penjelasan secara teknis dari fysiotherapi dengan ilustrasi yang jelas.
Ongkos cetak untuk 1000  eksemplar dengan kurang lebih 540 halaman diperkirakan sebesar Euro 10.000 (penawaran 2003). Buku dimaksud juga hanya memungut ongkos kirim dan selanjutnya diberikan secara cuma-cuma untuk keperluan para pembantu professional.

SURABAYA

Dr. Ario Djatmiko, Direktur Medis dan pendiri klinik di Surabaya, telah bertahun-tahun mengirim para dokternya ke rumah sakit spesialis dan kongres diseluruh dunia untuk meningkatkan pengetahuan dari perkembangan terakhir di bidang metode dan tehnik pelayanan medis. Ia sendiri setelah ujian dokternya di Indonesia melanjutkan pendidikannya ke Rijks Universiteit van Groningen (NL) untuk memperoleh keahlian di bidang bedah oncology. Saat ini ia juga mengajar sebagai dosen difakultas kedokteran Universitas Surabaya.
Untuk meningkatkan keahlian  perawatan dibidang oncology pada kliniknya, Ario Djatmiko telah mengajukan kepada SWPI untuk menyusun sebuah rencana dan melaksanakannya. Masukan untuk peningkatan perawatan dibidang oncology terutama mengenai “penggunaan protocollen, penulisan tentang protocollen dan intergrasi dalam prosedur perawatan standar.”
Vereniging van Oncologie Verpleegkundigen di Utrecht (NL) telah menyanggupi untuk bekerjasama dan telah mencantumkannya dalam majalah dari Vereniging. Hasil dari upaya ini telah membuka kesempatan untuk informasi dan lamaran yang serius. Program peningkatan perawatan dibidang oncology akan berlangsung pada medio 2006.

YAYASAN TANPA BATAS

Dalam bulan Nopember 2005 telah diadakan kunjungan ke Yayasan Tanpa Batas (YTB), di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tujuan YTB adalah untuk memberantas penyakit  TBC dan HIV/AIDS, antara lain dengan memberi penjelasan dan alih pengetahuan kepada mereka yang berisiko tinggi seperti Pekerja Seks Komersial (PSK), buruh pelabuhan, nelayan, sopir taxi atau bus, mahasiswa dan para narapidana.
Pada awalnya proyek ini didirikan oleh Artsen Zonder Grenzen di Belgia. Setelah dalam tahun 1999  terjadi peristiwa pembunuhan terhadap empat pegawai dari PPB di Timor Timur, maka semua pegawai bantuan internasional meninggalkan pulau tersebut.
Pegawai lokal yang melihat adanya manfaat dari proyek tersebut, kemudian melanjutkan proyek dimaksud di bawah nama Yayasan Tanpa Batas. SWPI diminta untuk menjadi perwakilannya di luar Indonesia  dan mendukung YTB untuk penggalangan dana guna melanjutkan  pekerjaan tersebut. YTB dan SWPI telah menutup suatu perjanjian kerjasama. Bantuan dari pemerintah setempat (belum) diperoleh. Dalam 4 tahun terakhir, kedutaan Belanda dan Finlandia telah memberikan bantuan finasial.

KUBCA

Dalam tahun 1999 didirikan suatu organisasi non-profit dengan maksud untuk membantu orang cacat terutama para tunarungu (tuli) yang masih muda untuk menyekolahkannya, sehingga mereka dapat mandiri dan dapat memperoleh/mendirikan kehidupannya sendiri. Di Kubca Samakta diberi pelatihan dan para peserta dapat melakukan kegiatan kerja di bidang kerajinan tangan.
Tujuan SWPI adalah untuk membantu institut Tuna Runggu di Bandung ini untuk mengupayakan pemasaran dari hasil-hasil kerajinan tangan. Kegiatan yang dilakukan antara lain membuat keramik, yang menurut para ahli Belanda, produknya menggunakan bahan dasar berkualitas baik.